ANDALAS|Bandarlampung|Ekonomi|14072026
—– Kementerian Pertanian berencana menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk komoditas telur ayam ras sebesar Rp24.000 per kilogram pada 15 Juli mendatang.
Kebijakan ini memicu berbagai respons dari para pedagang di pasar tradisional, salah satunya di Pasar Tugu, Bandar Lampung.
Saat ini, harga telur di pasaran terpantau sedang melandai di kisaran Rp23.000 hingga Rp23.500 per kilogram, diduga dipicu oleh masa libur sekolah dan berhentinya sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Gatot (50), pemilik Toko Sodikun di Pasar Tugu, mengungkapkan bahwa pedagang pasar sebenarnya berada di posisi yang dilematis karena hanya mengikuti arus harga dari agen besar.
“Mau berapa aja (harga HET) sih kita oke-oke aja, yang penting kita untung. Kita ini cuma ambil untung Rp2.000 per kilo. Per hari ini modal sekitar Rp21.500, kita jual Rp23.500,” ujar Gatot, Jumat (10/7/2026).
Menurut Gatot, naik turunnya harga telur sangat dipengaruhi oleh pasokan telur yang dikirim ke luar daerah seperti Jakarta untuk memenuhi kebutuhan operasional program MBG.
Ia juga menambahkan adanya ketimpangan modal antara pedagang kecil dan agen besar di pasar.
“Pedagang kecil hanya mampu membeli 1-2 ikat (karpet) telur per hari, sehingga mendapatkan harga yang lebih mahal dibanding toko besar yang langsung menyuplai dari peternak (tangan pertama),” tuturnya.
“Semua pembeli pasti nawar, suka banding-bandingkan harga. Kita jelaskan kalau untung cuma Rp2.000, belum dipotong risiko telur pecah atau susut,” tambahnya.
Senada dengan Gatot, Yuli (48), pemilik Toko Yuli menyebutkan bahwa harga telur ayam di tokonya saat ini berada di angka Rp23.000 per kilogram lebih murah Rp500 dibandingkan toko milik Gatot.
Mengenai rencana HET Rp24.000/kg, Yuli berharap harga tersebut benar-benar menjadi batas maksimal agar daya beli masyarakat tidak kembali anjlok.
“Ya boleh sih, kalau bisa jangan lebih dari Rp24.000 lah, kasihan yang beli. Kalau harga jual sekarang di Rp23.000 warga sudah senang, sudah murah. Mereka bisa beli satu kilo. Kalau tinggi lagi, paling cuma beli setengah kilo,” tutur Yuli.
Yuli mengungkapkan ia biasa menghabiskan sekitar 15 kilogram telur per hari ini. Namun ia khawatir kalau harga akan kembali naik maka penjualannya akan menurun.
Ia mengakui sudah mendengar kabar bahwa harga telur akan kembali naik seiring dengan berjalannya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, dia memilih untuk tidak menimbun pasokan. Sebab telur ayam adalah bahan pangan yang tidak tahan lama, sehingga pedagang tidak bisa menyetok dalam jumlah terlalu banyak.
Ia akan bersikap realistis. Jika harga modal dari peternak naik, maka harga jual ke konsumen otomatis akan ikut dikerek naik mengikuti pasar.
Para pedagang di Pasar Tugu berharap pemerintah tidak hanya menekan harga di tingkat hilir (pedagang pasar), tetapi juga mengontrol harga pakan ayam di tingkat hulu (peternak). (*)
